(by Edy Thomas Suharta)
Pembaruan dalam bidang pendidikan memerlukan keberanian untuk mencari metode dan membangun paradigma baru. Fenomena yang selalu terjadi dalam dunia pendidikan di era global ialah selalu tertinggalnya perkembangan dunia pendidikan itu sendiri jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi, dan dunia bisnis yang mengiringinya
(Prof. Suyanto, Ph.D)
Salah satu tugas seorang guru adalah membuat perencanaan pembelajaran dengan strategi yang baik dan sekaligus mengoperasikannya di kelas. Dalam membuat perencanaan pembelajaran tersebut, banyak faktor yang harus diperhatikan oleh guru, salah satunya adalah karakteristik siswa yang berbeda-beda.
Salah satu karakteristik yang berbeda-beda pada diri siswa adalah gaya belajar yang mereka miliki. Yang dimaksud dengan gaya belajar di sini adalah cara termudah bagi siswa dalam belajar. Pada dasarnya gaya belajar siswa terbagi menjadi tiga, yaitu Visual, Auditorial dan Kinestika. Namun ada kalanya seorang siswa memiliki lebih dari satu gaya belajar yang mendominasi pada dirinya.
Adapun secara garis besar ciri-ciri masing-masing gaya belajar tersebut adalah sebagai berikut. Siswa Visual lebih mudah mengerti dan mengingat gambar dan tulisan daripada perkataan maupun perbuatan. Siswa Auditorial lebih mudah mengerti dan mengingat suara dan perkataan daripada gambar maupun perbuatan. Sedangkan siswa Kinestika lebih mudah mengerti dan mengingat perbuatan dan tanggapan emosi daripada suara maupun gambar.
Seperti halnya saat kita menonton sebuah film, di dalamnya terdapat karakter-karakter tokoh film yang beragam, maka dalam pembelajaran pun terdapat karakter-karakter siswa yang mungkin jauh lebih beragam. Jika anda menyaksikan film Laskar Pelangi atau membaca novelnya karya Andrea Hirata, maka disana anda akan menemukan 10 karakter siswa yang berlainan. Mulai dari latar belakang sosialnya, ekonomi, kemampuan intelegen, bakat, motivasi belajar serta fasilitas yang dimiliki pun berbeda pula. Beragamnya latar belakang peserta didik dalam hal ini siswa SMP 5 Yogyakarta serta gaya belajar siswa yang berbeda-beda pula menimbulkan satu permasalahan tersendiri tetapi dalam satu hal mereka mempunyai persamaan yaitu nilai mereka saat masuk di SMP 5 Yogyakarta mempunyai nilai yang tinggi hal ini perlu juga diperhatikan .
Dengan berbagai karakteristik yang beragam tadi saat proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas hal-hal yang terlihat di kelas adalah sebagai berikut: anak sering ramai sendiri, tidak memperhatikan guru saat guru memberikan informasi atau menerangkan sebuah pokok bahasan, banyak anak yang asyik bermain sendiri entah menggunakan alat tulisnya atau benda-benda yang lain, begitu juga dengan siswa yang membawala labtop mereka kadang justru asyik dengan main game, begitu juga dengan handphone masih digunakan untuk bermain sms atau untuk chating dan main game. Permasalahan ini juga sebenarnya dialami oleh sekolah- sekolah yang lain.
Pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan sebenarnya juga sudah tanggap dengan perkembangan dunia pendidikan dengan diluncurkanya grand bagi sekolah, khususnya Sekolah Menengah Pertama dengan diluncurkanya Grand berupa hardware komputer dan Software pembelajaran untuk Software dengan ketentuan diantaranya sesuai dengan SKL serta bisa diperbanyak untuk siswa dan guru. Grand tersebut mempunyai nilai cukup besar dan akan mubasir jika tidak di manfaatkan oleh guru. Dari pengalaman penulis saat monitoring bahan ajar yang diberikan ke sekolah oleh dinas Pendidikan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta perlakuan terhadap bahan ajar berbeda-beda ada yang ditaruh diperpustakaan, di simpan di laboratorium komputer bahkan ada yang justru disimpan di ruang kepala sekolah . Jika hal yang demikian terjadi kapan siswa bisa menikmati dan memanfaatkan software pembelajaran yang sebenarnya ditujukan kepada mereka untuk digunakan.
Disisi lain peran guru dengan model pemberian software hanya sebagai user saja, Sebenarnya ini pun juga tidak salah karena dengan cara ini guru tidak direpotkan dengan urusan membuat software yang rumit dan menyita waktu serta belum tentu juga mereka mampu untuk melakukanya. Guru tinggal menggunakanya di kelas dan disesuaikan dengan materi yang diajarkan jika disampaikan dengan metode pembelajaran yang tepat ini akan menjadi model pembelajaran yang hebat. Tetapi inipun juga mempunyai permasalahan tersendiri, misalnya saat ada perubahan kurikulum sehingga software tadi tidak sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan akankah guru meninggalkan software tersebut dan kembali menggunakan metode pembelajaran yang lama. Berapa banyak kerugian yang ditimbulkan baik dilihat dari segi biaya yang dikeluarkannya maupun dari efektifitasnya.
Dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran diharapkan ada peningkatan pada proses pembelajaran termasuk di dalamnya fasilitas atau sarana yang dipergunakan. Penggunaan fasilitas pembelajaran ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan di dalam kelas, sehingga pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan yang menjadi kendala adalah sudahkah sekolah memiliki peralatan yang mencukupi untuk pelaksanaan pembelajaran dengan multi media ini, termasuk di dalamnya kemudahan dalam pengoperasiannya.
Di dalam proses pembelajaran di kelas saat ini guru dituntut untuk memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan siswa bahkan guru diharapakan menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran atau Student Centered Learning , sedangkan dengan beragamnya latar belakang peserta didik tentunya membawa permasalahan tersendiri. Salah satu hal yang diperlukan bagi guru untuk memenuhi tuntutan itu adalah mempergunakan alat bantu atau dengan media, dalam hal ini adalah software baik sebagai media maupun sumber balajar. Tetapi inipun belum memecahkan permasalahan karena software yang digunakan belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru, peralatan yang dimiliki sekolah pun belum tentu mendukung software yang mungkin sudah di beli oleh sekolah , begitu juga dengan kemampuan guru dalam mengoperasikan software tersebut.
Dalam bukunya bertajuk Effective Teaching, Evidence and Practice, Daniel Muijs dan David Reynolds menjelaskan beberapa hal tentang kecakapan ICT. Bagaimana ICT dapat membantu siswa belajar?
Pertama, presenting information. ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan informasi. Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di hard disk. Bahkan kini telah lahir google0earth yang dapat menunjukkan kepada kita seluruh kawasan di muka bumi kita ini dari hasil foto udara yang amat mengesankan. Dengan membuka www.google.com, data dan informasi akan dengan mudah kita peroleh. Mau membuat grafik dan tabel? Itu sangatlah mudah. Komputer akan dengan senang hati membantu peserta didik untuk membuatkan grafik dan tabel secara otomatis, dengan hanya memasukkan data sesuai dengan yang kita inginkan.
Kedua, quick and automatic completion of routine tasks. Tugas-tugas rutin kita dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan komputer dengan cepat dan otomatis. Mau membuat grafik, membuat paparan yang beranimasi, dan sebainya, dengan mudah dapat dilakukan dengan bantuan komputer.
Ketiga, assessing and handling information. Dengan komputer yang dihubungkan dengan intenet, kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan informasi dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet, kita dapat memiliki website yang menjangkau ujung dunia mana pun. Jangan heran, anak-anak kita dapat dengan mudah melakukan cheating atau ngobrol dengan temannya yang berada entah di belahan dunia mana.
Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita ambil dari penggunaan ICT dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang teknologi informasi haruslah dikuasai sebaik mungkin oleh generasi muda kita melalui pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Melalui langkah-langkah tersebut, penggunaan ICT dalam pembelajaran di sekolah dapat dimulai. Memang bukan dari nol, tetapi harus melalui potensi yang telah dimiliki. Insyaallah