English (United States) Bahasa Indonesia (Indonesia)
You are hereNews/Events > News
Register   |  Login
 Pelatihan e-learning di SMP 5 Yogyakarta
Minimize

 

KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA YOGYARTA MEMBUKA PELATIHAN E-LEARNING DI SMP 5 YOGYAKARTA

Siswa saat ini berbeda dengan siswa jaman dulu , saat ini mereka sudah sangat akrab dengan teknologi hal ini menuntut guru untuk meningkatkan kompetensinya, pelatihan ini juga bukan hanya media mencari sertifikat tetapi betul-betul ajang untuk mempersiapkan guru yang mampu memenuhi kebutuhan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Selasa 24 Februari 20009 Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Drs. Syamsuri,MM. membuka Pelatihan E-learning dan Aplikasinya di SMP5 Yogyakarta. Pelatihan ini direncanakan selama 30 kali pertemuan setiap hari selasa dan kamis kerja sama antara SMP5 Yogyakarta dengan ISTA AKPRIND.

Dalam sambutannya kepala dinas berharap bahwa pelatihan ini tidak hanya terpenuhinya jumlah pertemuan tetapi juga di imbangi dengan pelaksanaan di lapangan dan hasil yang dicapai sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan yang semakin maju dan berkembang, Sebagai guru yang punya wawasan kedepan peserta pelatihan diharapkan mampu menjembatani kesenjangan teknologi dan mengimbangi kompetensi guru dalam bidang Informasi dan Teknologi sehingga tidak ketinggalan dengan siswa. 

 PENGGUNAAN ICT DALAM PEMBELAJARAN
Minimize

(by Edy Thomas Suharta)

Pembaruan dalam bidang pendidikan memerlukan keberanian untuk mencari metode dan membangun paradigma baru. Fenomena yang selalu terjadi dalam dunia pendidikan di era global ialah selalu tertinggalnya perkembangan dunia pendidikan itu sendiri jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi, dan dunia bisnis yang mengiringinya

(Prof. Suyanto, Ph.D)

 

Salah satu tugas seorang guru adalah membuat perencanaan pembelajaran dengan strategi yang baik dan sekaligus mengoperasikannya di kelas. Dalam membuat perencanaan pembelajaran tersebut,  banyak faktor yang harus diperhatikan oleh guru, salah satunya adalah karakteristik siswa yang berbeda-beda.

            Salah satu karakteristik yang berbeda-beda pada diri siswa adalah gaya belajar yang mereka miliki. Yang dimaksud dengan gaya belajar di sini adalah cara termudah bagi siswa dalam belajar. Pada dasarnya gaya belajar siswa terbagi menjadi tiga, yaitu Visual, Auditorial dan Kinestika. Namun ada kalanya seorang siswa memiliki lebih dari satu gaya belajar yang mendominasi pada dirinya.

            Adapun secara garis besar ciri-ciri masing-masing gaya belajar tersebut adalah sebagai berikut. Siswa Visual lebih mudah mengerti dan mengingat gambar dan tulisan daripada perkataan maupun perbuatan. Siswa Auditorial lebih mudah mengerti dan mengingat suara dan perkataan daripada gambar maupun perbuatan. Sedangkan siswa Kinestika lebih mudah mengerti dan mengingat perbuatan dan tanggapan emosi daripada suara maupun gambar.

            Seperti halnya saat kita menonton sebuah film, di dalamnya terdapat karakter-karakter tokoh film yang beragam, maka dalam pembelajaran pun terdapat karakter-karakter siswa yang mungkin jauh lebih beragam. Jika anda menyaksikan film Laskar Pelangi atau membaca novelnya karya Andrea Hirata, maka disana anda akan menemukan 10 karakter siswa yang berlainan. Mulai dari latar belakang sosialnya, ekonomi, kemampuan intelegen, bakat, motivasi belajar serta fasilitas yang dimiliki pun berbeda pula. Beragamnya  latar belakang  peserta didik dalam hal ini  siswa SMP  5 Yogyakarta  serta gaya  belajar siswa  yang  berbeda-beda pula menimbulkan satu permasalahan tersendiri tetapi dalam satu hal mereka mempunyai persamaan yaitu  nilai mereka saat masuk di SMP 5 Yogyakarta  mempunyai nilai yang tinggi  hal ini perlu juga diperhatikan .

            Dengan berbagai karakteristik yang  beragam tadi saat proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas hal-hal yang terlihat di kelas adalah sebagai berikut: anak sering ramai sendiri,  tidak memperhatikan guru saat guru memberikan informasi atau menerangkan  sebuah  pokok bahasan,  banyak anak  yang asyik  bermain sendiri entah menggunakan alat tulisnya atau  benda-benda yang lain, begitu juga dengan siswa yang  membawala labtop  mereka kadang justru asyik dengan main game, begitu juga dengan handphone  masih  digunakan  untuk bermain sms atau untuk chating dan main game. Permasalahan  ini juga sebenarnya dialami oleh sekolah- sekolah yang  lain.

            Pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan  sebenarnya juga sudah tanggap  dengan  perkembangan dunia  pendidikan dengan   diluncurkanya  grand bagi   sekolah, khususnya Sekolah Menengah Pertama dengan   diluncurkanya Grand   berupa hardware  komputer  dan Software pembelajaran  untuk Software dengan ketentuan diantaranya sesuai dengan  SKL serta bisa diperbanyak  untuk siswa dan guru. Grand tersebut mempunyai nilai  cukup besar dan akan mubasir  jika tidak di manfaatkan oleh guru. Dari pengalaman penulis saat  monitoring bahan ajar  yang diberikan ke sekolah oleh dinas Pendidikan Propinsi Daerah  Istimewa Yogyakarta   perlakuan terhadap bahan ajar berbeda-beda ada yang ditaruh diperpustakaan, di simpan di laboratorium komputer  bahkan ada yang justru  disimpan di ruang  kepala sekolah . Jika hal yang demikian terjadi kapan siswa  bisa menikmati  dan memanfaatkan   software pembelajaran  yang sebenarnya  ditujukan kepada mereka  untuk  digunakan.

            Disisi lain peran guru dengan model pemberian  software hanya sebagai user saja, Sebenarnya ini pun juga tidak salah  karena dengan cara ini   guru tidak direpotkan  dengan urusan membuat software  yang rumit dan menyita waktu serta belum tentu  juga  mereka mampu untuk melakukanya. Guru tinggal menggunakanya di kelas dan disesuaikan dengan  materi yang diajarkan  jika disampaikan  dengan  metode pembelajaran yang tepat  ini akan menjadi  model pembelajaran yang hebat. Tetapi   inipun juga  mempunyai  permasalahan  tersendiri, misalnya saat ada perubahan kurikulum sehingga software  tadi tidak sesuai dengan  Standar Kompetensi Lulusan  akankah  guru meninggalkan software  tersebut  dan kembali menggunakan metode pembelajaran yang lama. Berapa banyak kerugian yang  ditimbulkan  baik dilihat  dari segi biaya yang dikeluarkannya maupun dari efektifitasnya.

            Dengan  penggunaan  teknologi dalam  pembelajaran  diharapkan  ada  peningkatan  pada proses pembelajaran  termasuk di dalamnya fasilitas  atau sarana  yang  dipergunakan.  Penggunaan fasilitas  pembelajaran ini   diharapkan  mampu mengatasi  permasalahan  di dalam kelas, sehingga  pembelajaran  lebih efektif    dan menyenangkan  yang  menjadi kendala adalah  sudahkah sekolah memiliki  peralatan   yang  mencukupi untuk  pelaksanaan   pembelajaran  dengan  multi media ini, termasuk di dalamnya kemudahan dalam  pengoperasiannya.

Di dalam proses pembelajaran di kelas  saat ini  guru  dituntut  untuk memberikan  pelayanan sesuai dengan  kebutuhan siswa bahkan  guru  diharapakan  menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran atau  Student  Centered Learning , sedangkan dengan beragamnya latar belakang peserta didik  tentunya  membawa permasalahan tersendiri. Salah satu hal yang diperlukan bagi guru untuk memenuhi tuntutan itu adalah mempergunakan alat bantu atau dengan media, dalam hal ini adalah software  baik sebagai media maupun sumber balajar. Tetapi inipun belum memecahkan permasalahan karena software yang  digunakan belum  tentu sesuai dengan kebutuhan guru, peralatan yang  dimiliki sekolah pun belum tentu mendukung software yang mungkin sudah di beli oleh sekolah , begitu juga dengan kemampuan guru dalam mengoperasikan software  tersebut.

Dalam bukunya bertajuk Effective Teaching, Evidence and Practice, Daniel Muijs dan David Reynolds menjelaskan beberapa hal tentang kecakapan ICT. Bagaimana ICT dapat membantu siswa belajar?

Pertama, presenting information. ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan informasi. Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di hard disk. Bahkan kini telah lahir google0earth yang dapat menunjukkan kepada kita seluruh kawasan di muka bumi kita ini dari hasil foto udara yang amat mengesankan. Dengan membuka www.google.com, data dan informasi akan dengan mudah kita peroleh. Mau membuat grafik dan tabel? Itu sangatlah mudah. Komputer akan dengan senang hati membantu peserta didik untuk membuatkan grafik dan tabel secara otomatis, dengan hanya memasukkan data sesuai dengan yang kita inginkan.

Kedua, quick and automatic completion of routine tasks. Tugas-tugas rutin kita dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan komputer dengan cepat dan otomatis. Mau membuat grafik, membuat paparan yang beranimasi, dan sebainya, dengan mudah dapat dilakukan dengan bantuan komputer.

Ketiga, assessing and handling information. Dengan komputer yang dihubungkan dengan intenet, kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan informasi dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet, kita dapat memiliki website yang menjangkau ujung dunia mana pun. Jangan heran, anak-anak kita dapat dengan mudah melakukan cheating atau ngobrol dengan temannya yang berada entah di belahan dunia mana.

Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita ambil dari penggunaan ICT dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang teknologi informasi haruslah dikuasai sebaik mungkin oleh generasi muda kita melalui pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. 

Melalui langkah-langkah tersebut, penggunaan ICT dalam pembelajaran di sekolah dapat dimulai. Memang bukan dari nol, tetapi harus melalui potensi yang telah dimiliki. Insyaallah