English (United States) Bahasa Indonesia (Indonesia)
You are hereSharing > Articles
Register   |  Login
 LINKS
Minimize
 Di Jepang, Robot Gantikan Guru
Minimize
 

Yuli Kwartolo.
Orang Jogja yang merantau ke Jakarta. Sedang menulis tesis S2 Jurusan Teknologi Pendidikan Univ. Negeri Jakarta. Sekarang sebagai konsultan pendidikan dasar dan menengah di Willi Toisuta and Associates PT Wacana Tata Akademika Jakarta.

Sebuah website http://www.okezone.com/ melaporkan bahwa di Jepang saat ini sedang dikembangkan sebuah robot yang mampu menggantikan fugsi guru di kelas. Adalah Hiroshi Kobayashi yang mengembangkan robot itu. Ia membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk membangun ‘robot guru’ itu. Robot itu diberi nama ‘SAYA’. Tidak hanya kemampuan memberi pelajaran untuk siswa-siswa SD, tetapi ‘SAYA’ dilengkapi kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa, bahkan ‘SAYA’ dilengkapi fasilitas yang memungkinkan ia bisa marah layaknya seorang guru beneran. Hebat benar Horoshi Kobayashi dan robotnya.
Saya bukan menganggumi robot yang hebat itu, tetapi yang saya kagumi adalah semangat, kerja keras, dan daya juang Hiroshi Kobyashi yang menghabiskan waktu untuk research selama 15 tahun hanya untuk robot itu.
Sekarang kita coba berefleksi atau introspeksi, apakah sekarang ini kita (atau dalam scope lebih luas: bangsa ini) mempunyai karakter seperti yang ditunjukkan oleh Hiroshi Kobayashi. Tetapi dari hati yang paling dalam, rasa-rasanya jarang atau kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Memang, ada beberapa anak bangsa melalui hasil research-nya memberi kontribusi yang sangat positif bagi bangsa ini.
Karakter yang ditunjukkan oleh Hiroshi Kobayashi tentu saja tidak muncul dengan sendirinya, tetapi melalui proses yang panjang dan melelahkan. Selain itu ditentukan juga oleh berbagai faktor. Dan bagi saya faktor yang paling menonjol adalah lingkungan dan tradisi yang kuat yang terus dipertahankan oleh bangsa Jepang, yaitu disiplin dan kerja keras.
Lingkungan yang saya maksud adalah pendidikan (baca: sekolah). Pertanyaannya: Apakah saat ini sekolah melalui proses belajar dan pembelajaran sudah menanamkan sikap keingintahuan (coriosity) sebagai modal mendasar bagi seseorang menjadi peneliti? Apakah proses belajar dan pembelajaran di sekolah memberikan kesempatan yang luas bagi anak didik untuk terus menyelidik? Apakah guru selalu men-trigger keingitahuan anak didik? Dan sederet pertanyaan lainnya.  
Disiplin, tradisi ilmiah, etos kerja hanya bisa dibangun melalui proses yang panjang. Proses itu harus dimulai sejak dini. Sekolah sebagai salah satu tempat persemaian tunas-tunas muda harus bisa memulianya. Sehingga kelak akan lahir orang-orang seperti Hiroshi Kobayashi.   Tidak sulit kok, yang penting ada komitmen. Bagaimana teman-teman?
 Badai Matahari
Minimize

Badai matahari, suatu fenomena yang diperkirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012, tidaklah berakibat kiamat, kata Pakar Antariksa dari LAPAN, Dr thomas Djamaluddin.

Tahun 2011-2012, diakui Djamal, di Jakarta, Selasa, adalah puncak aktivitas matahari yang mempunyai periode sekitar 11 tahun, jadi puncak aktivitas matahari pernah terjadi pada 1979, 1989, dan 2000.

Pada saat puncak aktivitas itu, bintik matahari meningkat jumlahnya akibat aktivitas magnetiknya dan mendadak berpengaruh terhadap ruang antar planet.

Pada saat-saat itu frekuensi kejadian lontaran partikel berenergi tinggi dan emisi gelombang elektromagnetik berupa percikannya juga meningkat. Namun menurut dia, badai matahari merupakan bagian dari cuaca di antariksa yang mirip dengan cuaca di bumi, hanya saja sifatnya berbeda.

Ia menjelaskan, badai matahari tidak berdampak langsung pada manusia, namun tetap berdampak pada benda-benda astronomi yang berada di sekitarnya.

Gangguan yang perlu dicermati menurut dia, hanya pada sistem teknologi yang ditempatkan di antariksa seperti satelit komunikasi dan navigasi serta sistem teknologi di bumi yang rentan terhadap induksi partikel energetik dari matahari yang masuk ke bumi lewat kutub.

Bila terjadi badai matahari potensi bahaya hanyalah kemungkinan rusaknya atau terganggunya satelit yang mengakibatkan antara lain gangguan telepon, siaran TV yang memanfaatkan satelit, serta jaringan ATM.

Selain itu, navigasi pada sistem penerima global positioning system (GPS) frekuensi tunggal dan siaran radio gelombang pendek juga bakal terganggu akibat adanya gangguan ionosfer. (Sumber : www.mediaindonesia.com)

 Teknologi (internet), bagaikan pisau bermata dua
Maximize
 Feedback
Minimize





Enter the code shown above in the box below
Send

 
Records per Page
Page 1 of 1First   Previous   Next   Last   
Burhan Palembang   burucaga_plb@gmail.com      3/5/2009 2:25:17 PM
matahari Yang bener gimana sih, kemarin sempat di bahas di TV tuh. Minta pencerahan dong ... Submitted By: Burhan Palembang

Akhmad Rizal   rizal2008@ymail.com      3/5/2009 2:12:59 PM
Badai Matahari Saya juga jadi miris nih. Habisnya teman2 di sekolah minta ditanyain sama mbah Google tentang kalender suku Maya. Submitted By: Akhmad Rizal

Amir   amirmembolos@yahoo.com      3/5/2009 1:50:11 PM
Bahaya Internet Memang yg penting membangun akhlak siswa kok. Kalau hanya mau 'ngblue' dimana-mana juga bisa. Jadi nggak perlu nyalahin internet dan teknologi. Iya kan? Submitted By: Amir